Setitik Cahaya itu Bernama “Ba”

dikutip dari sebuah kisah perjalanan seorang yang telah memecahkan misteri inti kehidupan

akan saya mulai cerita ini dengan kata “manusia”, ada sebuah potongan kalimat yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna, mengapa dikatakan demikian? kalau jawabannya karena manusia mempunyai akal dan nafsu saya rasa mereka yang masih kecil pun tahu jawabannya. Yaa, mungkin cerita ini bisa membantu anda-anda untuk memahami di mana letak kesempurnaan manusia yang sesungguhnya.

SALAM

Ada sebuah ikrar yang pernah kita ucapkan di hadapan sang pencipta, “SAYA SANGGUP” seperti itulah kata-kata yang mungkin sebagian besar dari manusia sudah lupa bahwa ketika berada di alam rahim kalimat itu pernah lantang diucapkan di hadapanNya. Maka lahirlah kita ke alam dunia, masih dalam hitungan detik saja berada di alam dunia mereka para bayi langsung menyesal, andai mereka bisa berbicara mungkin mereka akan berteriak “waduh gusti kok semrawut ngeten ndunyoe panjenengan, njenengan pendhet male pun gusti” hahaha,, Terlambat sudah, kita saat ini tengah terjebak dalam sebuah medan perang di mana perangnya tak kunjung usai dan musuhnya tak akan pernah habis karena lawannya adalah bagian dari diri kita masing-masing, dan saya yakin di dasar hati anda sekalian ada rasa rindu untuk kembali kepada rumah asal anda yaitu tempat di mana sebelum kita ditiupkan ke dalam rahim ibunda kita. MATI?? Tenang saja, tidak ada kata mati untuk manusia, karena apa, karena kita telah berjanji dengan kalimat “SAYA SANGGUP” sanggup untuk mengembalikan apa yang telah dititipkan kepada kita. Titipan itulah yang akan menjadi topik untuk cerita ini.

”selalu asah dan arahkan mata pedang, karena selama di dunia perang ini tak akan ada habisnya”

satu per satu seiring dengan berkembangnya akal dan nafsu kita, tabir atau hijab telah menutupi hingga menghilangkan setitik cahaya yang seharusnya menjadi alat penerang untuk dapat kembali pulang. Keadaan itu justru tidak membuat kita bangkit menyibak satu per satu tabir itu namun sebaliknya justru kita semakin larut dan menjadikan akal dan nafsu kita sebagai alat penuntun kita. Kita menganggap bahwa dunia inilah tujuan akhir perjalanan kita, maka sebagian besar dari manusia berlomba untuk dapat menguasai dunia ini, padahal sudah jelas dikatakan oleh ajaran apa saja bahwa tujuan utama dari manusia “seharusnya” adalah kembali kepada Tuahannya.

“Jangan jadikan apa yang ada di dunia ini sebagai penghalang kita menuju keabadian, tapi jadikanlah apa yang ada di dunia ini menjadi pemacu kita menuju keabadian”.

Ambillah sebuah pena kemudian sentuhkan ujungnya ke permukaan kertas, pasti akan terbentuk sebuah titik, dari titik itu terserah akan kita jadikan gambar dan bentuk apa goresan pena itu. kira-kira seperti itulah gambaran tentang titik yang terdapat dalam diri manusia. Ketika seseorang telah mengenal titik itu, apapun mampu ia raih, karena bukan ia yang mengejar tapi apa-apa yang ada di dunia inilah yang senantiasa mengejar ia. Mari bersama kita sibak satu persatu tabir yang menutupi jalan kita menuju keabadian, tabir yang terbentuk oleh akal dan nafsu kita, tabir yang mulanya ada maka pada akhirnya harus tidak ada.

“Berawal dari sebuah titik, maka akan berakhir pada sebuah titik pula”

SALAM

Penulis

8 Agustus 2011

Tentang danyalmim

saya berjuang untuk menjadi manusia
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Setitik Cahaya itu Bernama “Ba”

  1. misa berkata:

    jgn mumet mas bro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s